Dear sahabat-sabahatku di dunia per bloggeran.
Pagi ini mungkin merupakan salahsatu pagi yang berkesan untuk beberapa orang di gerbong 10, gerbong khusus wanita. Terlebih aku.
Tak ada yang menyangka bahwa ilmu dan pelajaran bisa didapatkan di tempat-tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Adalah hal yang lumrah jika ilmu dan pelajaran itu kita dapatkan di sekolahan, kampus dan lembaga-lembaga yang memang diselenggarakan untuk menuntut ilmu.
Namun kali ini..pagi ini, 20 November 2014 aku merasakan getaran menentramkan dan mengharukan di KRL Jabodetabek jurusan Depok-Jakarta Kota.
Seperti biasa, pukul enam pagi aku dan banyak orang menanti kereta di St. UI. Semua berjalan seperti biasa. Rebutan masuk kereta, berjejal, bergelantungan (upss..ini terlalu berlebihan ya..hhihi) dan diam berbengong-bengong sampai stasiun tujuan.
Namun kali ini lain.
Didepan ku duduk seorang ibu tua dan anaknya (posisiku berdiri). Awalnya biasa saja, penampilannya juga rapih..bersih tidak kumel. Namun ketika sudah mendekati stasiun manggarai, si ibu tua mulai gelisah dan bersiap. Yang aneh, kulihat sang anak sekitar umur 6-7 tahun masih tertidur lelap. Si Ibu tua menunduk..mengaitkan selendang dipundaknya dan yang terjadi kemudian membuat ku dan beberapa wanita lain di gerbong 10 terheran-heran..si Ibu tua membopong anak tsb..merangkul kemudian mengaitkan gendongannya ke badan si anak.
Postur si anak hampir setinggi si ibu tua..namun si ibu tua kuat menggedong si anak tsb. Penasaran, aku berusaha melihat lebih jelas wajah si anak yang digendong. Wajah seorang gadis cilik berkebutuhan khusus, kulitnya putih bersih, seringkali si ibu tua menyeka airliur si anak dengan selendang gendongannya sebab mulut si anak yang tidak bisa tertutup rapat. Dan sepertinya lumpuh karena sekujur tubuhnya terlihat kaku tak bisa digerakkan. Tangan dan kakinya ada bebatan atau balutan kain alat apa itu aku kurang faham . Subhanallah..Kami semua bertanya-tanya..mengapa wanita serenta ini masih harus berjuang memanggul seorang gadis cilik..kemana anaknya yang lain..atau suaminya…hmm. Fikiran-fikiran seperti itu hanya bergulat di fikiranku dan mungkin juga difikiran orang lain disekitarku..segan untuk menanyakan langsung kepada si ibu tua. bahkan sekedar mengambil fotonya secara diam-diam pun aku sungkan.Takut menyinggung perasaannya.
Si Ibu tua tidak mau dibantu. Dia hanya tersenyum ketika kami berusaha membantunya yang setiap kali berusaha menaikkan gendongannya yang melorot. Ya Allah..aku pandangi perjuangan si ibu terutama saat ia melangkahkan kaki turun dari kereta ke peron. Berjalan diselasar peron dengan tertatih2. Ya Allah…begitu besar perjuangan seorang ibu.
Sesaat ku pejamkan mata..merasakan begitu besarnya cinta kasih seorang wanita…seorang ibu..perjuangannya..ketulusannya..Terbersit wajah ibuku. Pengorbanannya untukku..kasih sayangnya untuk ku.. (airmata menetes).
Kesibukanku kerja sambil kuliah membuatku kerap kelelahan luarbiasa ketika sudah menginjakkan kaki dirumah. Dan Ibu mengerti itu. Selalu ada air hangat untukku mandi..teh hangat untuk ku minum..makan malam untuk ku makan.. Aku tak pernah sekalipun meminta ibu siapkan ini semua. Sudah kusampaikan kesegananku karena layanannya kepadaku. Jujur aku tak ingin menjadi seorang anak yang terus-menerus menyusahkan Ibu ku. Sudah cukup pengorbanan nya untuk ku sejak ku didalam kandungannya. Karena kini sudah saatnya aku yang membahagiakannya. Namun apa jawabnya “Selagi Ibu bisa..sanggup..sempat..kenapa tidak” sambil terseyum dan mengecup keningku. Love you so much Mom.
Lamunan buyar ketika Announcer KRL mengabarkan kereta sudah mendekati st. gondangdia. Aku harus bersiap turun. Kuseka diam-diam airmata yang sempat tak tertahan menetes keluar dari pelupuk mata.dan bersyukur. Memiliki Ibu yang cintanya seluas samudera untuk ku. J
Memang benar kata pepatah… kasih ibu sepanjang jalan, Kasih anak sepanjang galah..




